2/24/2005

Arjuna Patah Hati

Oleh: Rods

pk sejahtera - JAKTIM - ‘Menunggu Seorang Arjuna’ Demikian judul cerpen yang ditulis oleh seorang perempuan bernama Maryam. Aku menemukannya di sebuah website. Judul yang merangsangku untuk membacanya. Kuklik cerpen tersebut dan kubaca isinya...

“Ooh, kisah seorang wanita yang baru saja berpisah dari kekasihnya, dan kini sedang mencari penggantinya,” batinku sambil manggut-manggut. Sebuah kisah yang penuh liku sekaligus perenungan diri. Liku, karena kisah perjalanan cintanya yang harus kandas setelah sekian tahun terbina. Sementara, dia terus merenung dan mengharapkan datangnya arjuna dambaan yang ditentukan illahi untuknya.

Membaca kisahnya, membuatku penasaran akan kebenaran isinya. Maka kulayangkan surat melalui emailnya yang kebetulan tertera di cerpen tersebut. Perasaan empati hendak kubagikan untuknya sebagai bentuk kepedulianku akan makna cinta dan kasih sayang antar manusia.

Sebenarnya cukup lama aku berfikir sebelum mengirim email itu, karena khawatir dia akan acuh dan tidak membalasnya. Maklumlah, dia tidak mengenalku. Lagipula, siapa aku ini? Kok berani-beraninya berharap dari seseorang yang tak kukenal. Oho, berharap? Sudah sejauh itukah aku? Tapi entah kenapa, dorongan emosi ini begitu kuatnya hingga akhirnya kuputuskan untuk mengirimnya.

“Dear Maryam, cerpenmu di sebuah website sungguh bagus. Apakah itu kisah nyatamu?” Begitu bunyi email pertama yang kulayangkan ke address-nya.

Dua hari kemudian, sebuah email mengisi inbox-ku. Tanpa perasaan apapun, aku membukanya. Terpampang nama Maryam di sana. Aha! Lalu segera kubuka.

“Thanks ya, udah ngebaca cerpenku. The story is real! Kamu adalah orang kesekian yang memberikan reaksi atas cerpen tersebut.”

Wah, ternyata emailku dibalasnya. Ternyata dia adalah orang yang cukup terbuka. Tanpa pikir panjang, akupun langsung membalas emailnya. “Gimana sih bisa membuat cerpen sebaik itu? Gimana pula suasana hatimu saat menulisnya?”

“Ah, kayak yang udah expert aja. Aku tuh bukan penulis yang baik sesungguhya. Justru karena hatiku sedang hancur, maka mengalirlah begitu saja tulisan itu.”

Demikian komunikasi itu berlangsung, yang semakin membuatku mengerti kalau dia memang sedang mengalami masalah.

“Kenapa bisa begitu?” Kembali aku bertanya. Dia pun menjawab dengan kalimat cukup panjang. “Aku pernah menjalin hubungan dengan seorang cowok. Sudah cukup lama. Terbilang sebanyak seluruh jari-jari tanganku. Aku mencintainya, bahkan sangat mencintainya. Setahun yang lalu aku mengenakan jilbab dan mulai sering membaca buku-buku agama. Islam melarang pacaran, karenanya aku meminta dia menikahiku secara resmi agar aku bisa menjaga hati dan terhindar dari perbuatan maksiat. Namun dia tidak bisa karena satu alasan; tidak siap! Akhirnya, aku memutuskan untuk berpisah. Berat memang. Tapi, rasanya itulah yang terbaik untukku.”

Aku berhenti sejenak membacanya, mencoba mencerna kalimat itu. Hm, simpatiku jadi semakin bertambah saja. Lalu kulanjutkan…

“Sebenarnya, teman-teman kerjaku beberapa kali memperkenalkan aku dengan seseorang, tapi begitu mereka melihat jilbab ini, perlahan tapi pasti, mereka menghindariku. Padahal aku sudah siap menerima siapapun yang ingin serius menikahiku, asalkan dia bisa menerima aku apa-adanya.”

Aku jadi terenyuh sekaligus kagum. Ingin rasanya menyelami perasaan dukanya. O-o, kenapa aku jadi sentimentil begini? Apakah itu karena seorang Maryam?

“Wanita adalah makhluk Tuhan yang dimuliakan. Darinyalah lahir manusia-manusia pemimpin bumi ini. Darinya pula kita mandapatkan kasih sayang hingga seperti sekarang. Menyakitinya berarti tidak menghargai kedudukannya!” komentarku dengan nada yang agak emosional. Masih lewat email tentu. Ah, apa yang terjadi pada diriku? Kenapa… kenapa perasaaku jadi larut begini?

@->--

Pagi ini, seperti juga kemarin. Komputer menjadi santapan harianku. Pekerjaan kantor menjadi aktivitasku menghabiskan detik demi detik dari hari-hariku. Satu hal yang agak berbeda hari ini; suasana hati yang bulat untuk mengatakan sesuatu padanya!

“Maryam, kita memang belum pernah bertemu secara fisik. Dunia maya ini seakan menjadi penghalang antar kita untuk saling menatap,” tulisku dengan kalimat yang sebenarnya terasa agak ngawur. Tapi aku tak peduli. Sesuatu telah mendorongku begitu kuat.

“Aku mengerti kalau trauma itu masih membekas dalam di hatimu, hingga kau tak mudah mengembalikan keadaan seperti dulu lagi. Tapi Mar, sampai kapan itu akan berlangsung? Sejujurnya ingin kukatakan, kalau aku berniat hendak menjadi teman hidupmu. Keimanan dan keikhlasan ini akan kubawa sebagai janji terindah,” tulisku lagi untuknya. Tak peduli apakah kalimatku terlihat semakin lancang dan ngawur. Yang penting, aku telah menyampaikannya. Barangkali benar yang dikatakan orang-orang yang sedang jatuh cinta. Sehari tak bertemu, seakan setahun rasanya. Ups! Jatuh cinta? Tiba-tiba aku merasa semakin aneh dengan diriku sendiri.

Lama kutunggu balasan darinya. Kini memasuki minggu kedua dari sebuah penantian. Tak ada juga tanda-tanda akan munculnya harapan. Sampai akhirnya, ketika aku sedang merapikan berkas-berkas kerjaku, tiba-tiba masuk sebuah email ke inbox-ku. Saat itu komputer belum kumatikan.

“Dear, Fai. Terima kasih atas perhatianmu selama ini. Terus terang, aku tidak menduga akan secepat ini proses persahabatan kita berjalan. Sejujurnya kukatakan, kalau aku tidak siap menjalani proses yang secepat ini. Aku masih trauma. Dan tidak bisa melangkah secepat yang kau harapkan. Aku belum bisa melupakan wajahnya yang begitu melekat di hatiku. Aku harus mengatakan apa, karena aku tidak ingin menyinggung perasaanmu yang begitu perhatian dan peduli padaku. Aku hanya ingin berteman dulu saat ini, dan tak ingin mengikat komitmen dengan siapapun juga. Termasuk denganmu. Maafkan aku!”

Gunung seakan meletus, dan batu-batu panasnya seperti hendak menimpaku. Itulah kalimat terakhirnya. Tiba-tiba aku merasa, perempuan adalah makhluk paling aneh di dunia. Bukankah kemarin dia sendiri yang mengatakan bahwa demi menjaga hatinya, ia siap menerima seorang lelaki yang bisa menerima keadaannya, yang tak mundur karena jilbabnya.

Lalu ketika aku menyatakan siap melangkah bersamanya, kenapa malah dia yang mundur? Kenapa pula ia masih begitu mengingat bekas kekasihnya itu? Jika demikian, apa artinya semua yang dia tulis di cerpen itu? Sebuah kebohongankah? Ah, kepalaku terasa semakin berdenyut. Merasa bahwa diriku telah terseret arus yang benar-benar tak mampu kukendalikan. Aku kecewa. Tapi… aku juga malu!

@->--

Dua salam menutup shalat isyaku malam ini. Sejenak kurenungkan nasib cinta kilatku yang memilukan sekaligus memalukan itu. Aku tahu, keinginan memang tak selamanya menjadi kenyataan karena di atas itu semua, ada Sang Maha yang mengatur segalanya. Menentukan nasib dan memilihkan jodoh untuk hamba-Nya. Tiba-tiba pula aku seperti tersadar, bahwa selama beberapa waktu belakangan ini aku telah diseret oleh arus yang kuciptakan sendiri, namun begitu sulit kumengerti. Apakah cinta memang demikian?

Aku beranjak dari tempat sujudku, berdiri dan melangkah menuju kamar. Kutoleh tembok-tembok bercat biru di ruang kamar itu dengan galau. Semua terasa senyap, sesenyap hatiku yang sedang patah. Astaghfirullah… aku harap ini bukan patah hati. Tapi sebuah penyesalan atas keterpesongan langkahku belakangan ini.

Kebisuan itu tiba-tiba pula disentakan oleh suara HP-ku. Pelahan kuangkat.

“Akhi, biodata akhwat untuk antum sudah ana terima. Kapan nih ana kasih ke antum?” ujar sahabat karibku di seberang sana. Aku diam tertegun. Ya Allah, adakah ini yang Kau pilihkan untukku? (NoS/air)

For all: Sesungguhnya perjalanan ini penuh liku dan berbatu, maka hati-hatilah! Karena kita tak pernah tahu kapan kita akan tersandung atau terjatuh.






This blog already moved to http://blog.iqbalir.com

Notice: This blog is not updated anymore. Please visit my update blog at: http://blog.iqbalir.com

5 Tanggapan:

pd 05 March, 2005 15:59, Blogger Latifah Aljufri bilang :

hmmm....., interesting. ngak sengaja jaln-jalan di blogger , ketemu tulisan yg menarik.
nice to meet u akhi :) tapi ini bukan cinta kilat lho...hehehe
plz visit:
http://helaine-raine.blogspot.com

 
pd 06 March, 2006 12:31, Blogger winnie bilang :

hmmm jodoh memang tak bisa kita duga, entah dari mana asal nya dan datang nya jika telah menghampiri.... kita tak bisa menghindar ...^_^

 
pd 02 July, 2008 14:44, Blogger wafa tsabit bilang :

mmm...aku ngerasain betul rasanya..faham betul..
lagi ngalamin juga sih :P..keduanya..
kondisi akhi juga kondisi maryam, terjadi padaku.

wanita memang makhluk yang misterius akh. tidak akan mudah menyelaminya, kemudian langsung keluar lagi dipermukaan..itulah alasan kenapa ketidakmudahannya diselaminya itu menyebabkan hati wanita mudah terluka dan tidak bisa melupakan sosok yang sudah menyelami cukup dalam..

wanita itu ibarat tulang rusuk paling bengkok
tidak bisa terlalu dipaksa, karna dia akan patah
tidak bisa juga terlalu dibiarkan, karna dia akan semakin bengkok

membingungkan??? so pasti.. :D

 
pd 12 December, 2009 09:35, Anonymous Anonymous bilang :

assalamu'alaikum P'Iqbal,
kmrn nyari2 artikel ttng pernikahan bwt seorang tmn, eh tnyta ketemu blog ini yg sangat menarik, jzklh...
btw, tulisan barusan sangat menyentuh...
wanita memang kadang2 aneh & membingungkan... tp satu hal yg harus kita yakini, klo Jodoh itu memang tak kan tertukar...

 
pd 12 December, 2009 09:40, Anonymous Anonymous bilang :

assalamu'alaikum P'Iqbal,
kmrn nyari2 artikel ttng pernikahan bwt seorang tmn, eh tnyta ketemu blog ini yg sangat menarik, jzklh...
btw, tulisan barusan sangat menyentuh...
wanita memang kadang2 aneh & membingungkan... tp satu hal yg harus kita yakini, klo Jodoh itu memang tak kan tertukar...

 

Post a Comment

<< Ke halaman utama